Home / Curhat Bentar / Penulis yang Baik, Adalah Pembaca yang Cerdas

Penulis yang Baik, Adalah Pembaca yang Cerdas

Jangan jadi penulis kalau ndak mau susah.

Iya. Jangan jadi penulis kalau ndak mau susah-susah nyari ide berkualitas, ndak mau susah baca buku buat dapet referensi bagus, ndak mau susah buat belajar nulis setiap ada waktu, ndak mau susah menghabiskan waktu untuk membaca ulang tulisannya dan mengakui kekurangan yang ada, ndak mau susah ngerasain baper, tersinggung dan sakit hati kalo dapet kritik saran yang terdengar ‘kejam’.

Jadi penulis itu menyusahkan, Kak. Karena kamu harus mau begadang demi menumpahkan segala aksara yang menumpuk di dalam kepala, minta dibebaskan. Menyusahkan, karena ide kadang muncul ndak kenal waktu dan tempat. Mendadak kayak perut mules kebanyakan makan cabe, jadi kudu siap sedia bawa buku kecil buat corat coret.

Jadi penulis itu susah, Kak. Karena kebanyakan kami menulis diawali dengan hobi membaca. Menemukan celah baru disana dengan pemikiran sok keren, “Kayaknya ini lebih bagus dianuin deh, kayaknya saya mau coba bikin versi itu deh, kayaknya, kayaknya, kayaknya.”

Berawal dari ulah pemikiran sok keren itu, bisa jadi justru lahir pembaharuan-pembaharuan tulisan, Kak. Meskipun banyak juga yang mulai menulis karena sejak awal mereka punya ide unik nan hebat dan lalalayeyeye. Tapi tetep, Kak, para penulis hebat diluar sana menulis karena ingin menenangkan kegelisahan yang memporak-porandakan isi kepala. Menulis karena memang jatuh cinta pada dunia itu, menulis untuk menjaga kewarasan, dan segudang alasan lainnya untuk menulis.

Penulis yang baik, sebelum memulai sebuah cerita selalu melakukan riset, Kak. Itu juga susah. Karena kamu harus mau berpayah-payah membaca buku ataupun mungkin jalan-jalan ke suatu tempat demi mencari jiwa yang tersesat untuk dijebak dalam tulisan kamu. Bolehlah, kita memanfaatkan segala teknologi canggih yang ada semacam Google ataupun Yahoo atau segala jenis saudaranya. Tapi Kak, kalau sekedar copy-paste dari sana tanpa melakukan apapun, apanya yang disebut dengan menulis? Kalau hanya mau menulis tanpa pernah belajar mencintai buku, apa yang mau ditulis?

Tolonglah,  lucu kalau kamu bilang kamu penulis tapi hanya mencomot apa-apa yang disuguhkan wikipedia dan menaruhnya mentah-mentah di sesuatu yang kamu sebut novel milikmu tanpa ada perubahan. Sama halnya kamu mengaku kalau kamu ini chef, tapi hanya bisa menyajikan ikan mentah langsung dari kali tanpa dimasak. Konyol kalau kamu bilang kamu penulis tapi kamu tidak pernah suka membaca (buku) untuk mendapatkan referensi ataupun inspirasi. “Dari google juga cukup,” Mau bilang gitu? Sini, Kak, tak kecup pakai besi panas.
Ingin rasanya jari ini mengetik, ‘Mas, google itu ibarat sex-doll dan buku itu ibarat perempuan sungguhan. Kalau mau ena-ena, asik sama buku.’
Ah. Keparat kan?
Sebagai penulis, kamu juga harus bisa memposisikan diri sebagai pembaca untuk karya tulismu sendiri. Jangan mengandalkan orang yang -katanya- menjabat editor. Apalagi, kalau kamu hanya minta kritik saran tapi masih meninggikan ego. Berharap dipuji, padahal isi tulisanmu membuat orang ingin memaki. Kamu baper, lalu seisi dunia yang kamu anggap bersalah.
Jangan bikin nenek saya yang udah dikubur ketawa ngakak deh.

Penulis yang baik itu pembaca yang cerdas, Kak. Karena dia harus selalu mau membaca ulang tulisannya berkali-kali sebelum menyerahkan tulisannya pada khalayak. Penulis baik, pembaca yang cerdas. Karena penulis yang baik juga harus mau menyanggupkan diri menyunting tulisannya sendiri. Gitu.

Kak, menulis itu sulit. Penulis itu banyak susahnya. Kudu siap hidup miskin (awalnya).

Tentang lacahya

author. editor. theatre's. tukang bikin baper.

Lihat Juga

06.

Fakta Menarik Kemerdekaan Indonesia

shares Facebook Twitter Google+ WhatsApp LINEMerdeka!!, Bulan Agustus merupakan Bulan dimana Indonesia merdeka dari para …