Home / Curhat Bentar / Be a Good Author With Good Attitude [Part 2/End]

Be a Good Author With Good Attitude [Part 2/End]

Bulan semakin naik. Pun emosiku. Jangkrik berdendang di halaman, cangkir kopi ditangan hampir terlempar.

Sebenarnya aku sedang menimbang, lebih sakit mana antara terlempar kopi panas atau tertusuk garpu. Sumpah. Ini mengesalkan.

“Jadi penulis, sama sekali tidak gampang, Malik. Kamu terlalu manja. Memangnya, kamu siapa? Sudah sekelas Jostein Gaarder? Rick Riordan? Atau Mira W.?” aku bertanya sinis, lalu melangkah pergi. Persetan dengan Malik.

***

Menjadi penulis, sama sekali tidak mudah. Apalagi penulis anyaran. Harus mau berjuang dari titik nol. Menerbitkan buku, juga tidak segampang itu. Kamu pikir, kirim-cetak-terbit-terjual? Huohohoho. Kalau semudah itu, sudah puluhan buku milikku terjual.

Apalagi, kamu mencoba menerbitkan di penerbit indie yang memang media promosi terkuatnya adalah penulis itu sendiri. Kebetulan, penerbit yang (sialnya) mengikat kontrak dengan Malik baru saja terkena musibah hingga tidak bisa seaktif biasanya. Hmm… yang namanya terikat kontrak dengan penerbit, tidak bisa seenaknya kita cabut naskah lalu kirim ke penerbit lain. Bisa jadi, yang ada malah kamu terkena tindak pidana.

Sejauh yang kulihat, Malik sama sekali tidak ada usaha promosi. Maunya hanya disuapi penerbit. Dan juga dia belum pernah kulihat membuat fiksi mini, prosa, puisi  maupun cerpen. Omaigat. Dipikirnya, penerbit indie sekelas Gramedia yang udah mayor? Disana sih, penulis mungkin tinggal ongkang-ongkang kaki ajah. Penulis yang tembus penerbit mayor aja tetep promo sendiri. At least, ada usaha nunjukin,”INI GUE DAN INI KARYA GUE. PLIS KALIAN BELI YAAHHH!!”

Gituh.

Sebagai penulis baru, kita yang kudu aktif gerak. Harus rajin baca rules yang penerbit kasih, rajin nyari info tentang penerbit, tata caranya, de-es-be. Do anything, give everything. Kalau belum apa-apa udah nyolot kayak si Malik, duh. Mungkin kamu kurang gaul.

Jangan kaya Malik, yah. Demi uang dia nulis, tapi ga punya mental penulis sama sekali. Kebanyakan penulis itu ya, menulis karena ada keresahan, untuk kepuasan batin, penumpahan ide. Intinya berkarya dulu. Malik penulis manja, belum makan asam garam dunia kepenulisan kok udah banyak nuntut dan ngeluh.

Mas, Mbak. Tolonglah. Menjadi penulis itu bukan hal yang mudah. Be a good author with good attitude. Kalau tidak bisa, jangan menjadi penulis.

***

Dear Malik, i don’t know who you are. But i wanna find you and slap you.

With love, me.

***

Cerita diatas berdasarkan kisah nyata curhatan teman saya, sesama penulis. Nama dan lain sebagainya disamarkan.

Tentang lacahya

author. editor. teacher. tukang bikin baper.

Lihat Juga

00b

Mengenal Klub Gaib para Musisi, Klub 27

Mitos tidak hanya ada di Indonesia, ternyata di Amerika Serikat terdapat mitos mengenai "Klub 27", apa sih "Klub 27" Itu?